The Truth behind Soulmate

gue yakin banget kalo seluruh orang di dunia ini mengenal dengan baik yang namanya cinta dan segala komponen pendukungnya. Mulai dari jatuh cinta, pdkt, jadian, sampe yang namanya ditolak atau putus cinta. Dan pastinya, semua orang punya banyak cerita cinta yang menarik, dan hebatnya lagi masing-masing cerita punya perbedaan yang sangat unik.

Rasanya, tidak akan pernah ada habisnya apabila kita bercerita tentang cerita cinta kita. Ada aja yang dibahas. Dan apapun itu cerita cinta kamu, indah atau sebuah mimpi buruk, semuanya akan selalu mendapatkan tempat tersendiri di hati kita.

Kali ini, gue ngga akan ngebahas mengenai gimana rasanya jatuh cinta, pdkt, atau pahitnya putus cinta. Tapi gue pengen sedikit ngebahas sebuah fenomena unik yang berhubungan dengan cinta, yaitu Soulmate.

Dari sisi katanya, soulmate adalah sebuah istilah dari bahasa Inggris yang diambil dari dua suku kata, soul yang berarti jiwa dan mate yang berarti pasangan atau teman. Jadi, kalo digabungin, soulmate dapat diartikan sebagai pasangan jiwa.

Wow! sebuah kata yang menarik dan pastinya menjadi bahan perburuan semua orang dimuka bumi ini. Coba deh lo jujur ama diri lo sendiri. Pasti kata inilah yang akan selalu lo cari dalam petualangan cinta lo. Seseorang yang sudah ditakdirkan menjadi pasangan jiwa lo dan akan menjadi teman lo mengarungi hidup ini sampai akhir hayat nanti. Romantis banget ngga sih??!!

Tapi, apakah bener soulmate itu selalu bisa direpresentasikan kepada seseorang yang akan menjadi pendamping hidup kita?

Begini. Jadi menurut banyak cerita yang pernah gue denger dan gue alamin sendiri, ada dua jawaban untuk pertanyaan tersebut. Jawaban pertama adalah, YA! Soulmate adalah seseorang yang kita temukan dalam perjalanan hidup kita, setelah sekian lama mencari, dan kemudian dengan suksesnya menjadi pendamping hidup kita pula. Sedap banget!

Sementara jawaban yang kedua adalah, TIDAK! Soulmate tidak selalu direpresentasikan sebagai seseorang yang akan menjadi pendamping hidup kita (dalam artian istri/suami). Tapi kita mungkin menemukan soulmate kita namun dengan suksesnya pula gagal menjadi pendamping hidup kita. Bisa jadi, soulmate itu berarti seorang temen/sahabat deket yang selalu ada dikala sedih dan senang. Atau bisa jadi pula, soulmate itu berarti seseorang yang benar kita cintai, tapi cintanya tidak pernah kita miliki. Bisa jadi, karena dia sudah menjadi milik orang atau hal lainnya. Tapi intinya, kita meyakini kalo dialah pasangan jiwa kita sebenarnya.

Sebuah anugerah yang luar biasa bagi seseorang yang bisa mendapatkan soulmatenya dan kemudian menjadi pasangan hidupnya pula. Tapi, tidak berarti sebuah kutukan atau nasib naas pula apabila kita tidak mendapatkan soulmate kita sebagai pendamping hidup kita. Satu jawaban yang pasti adalah pasangan hidup kita adalah seseorang yang akan selalu memberikan perasaan nyaman dan damai bagi kita dalam mengarungi hidup ini. Seseorang yang selalu menjadi tempat untuk kita berbagi dan berkeluh kesah. Seseorang yang akan selalu hidup dalam jiwa kita. Belahan jiwa kita yang sesungguhnya…

Heater called earth

“Yul, panas banget ya belakangan. Lo ngerasa juga ngga? kipas angin gue ngga ngaruh, biar kata dipasang yg paling kenceng juga tetep keringatan gue. kenapa ya?” Gue jawab aja, “iya ya. kemaren2 sih kamar gue rasanya adem2 aja tuh.”

Waktu itu (belum lama sih) gue belum connect kalo hal tsb ternyata sangat mungkin berhubungan ama perubahan iklim bumi secara keseluruhan dalam beberapa tahun terakhir. Gue baru nyadar setelah gue ngebaca sebuah artikel mengenai climate change dkk. Semuanya baru jadi nyambung deh.

Jujur aja gue sendiri ngga pernah melakukan penelitian secara scientific mengenai perubahan iklim yang melanda dunia belakangan ini. Gue hanya mencoba untuk menganalisa lewat perubahan tingkah laku alam belakangan ini. Maaf-maaf kalo salah, tapi banyaknya perubahan “tingkah laku” alam seperti banjir, gempa bumi, pergeseran musim, temperatur, sampai banyaknya wabah penyakit baru dan semakin aneh adalah indikator yang sangat jelas bahwa alam sedang berubah secara drastis menuju sesuatu yang buruk dan merugikan manusia sebagai penghuninya.

Padahal kalo diliat, yang ngebuat alam jadi kaya gitu adalah manusianya sendiri. Walaupun ngga bisa disalahin semuanya, tapi tindak tanduk kita yang seperti tidak peduli dengan kelestarian lingkungan kitalah yang menjadikan semua bencana yang terjadi belakangan ini seperti salah satu point menuju titik kulminasi kerusakan lingkungan secara total.

Ngga usah yang rumit-rumit kaya pengurangan gas emisi dll deh, dari hal yang kecil-kecil aja dulu. Kaya, kebiasaan buang sampah tidak pada tempatnya, pembalakan hutan, pembakaran lahan, atau hal-hal kecil yang deket dengan kehidupan sehari-hari kita yang secara ngga sadar ternyata berhubungan ama kelestarian lingkungan hidup secara universal.

Pada dasarnya semua orang pengen hidup nyaman, betul? Semua orang pengen hidup aman dan sehat, betul? Dua pertanyaan yang simpel tapi sangat mendasar dalam setiap kehidupan manusia tersebut bisa menjadi sebuah dasar yang positif apabila kita mampu mencamkannya dalam perilaku sehari-hari kita.

Karena yang harus kita ingat bahwa kelestarian alam tidak hanya terjaga begitu saja. Semuanya sangat bergantung dengan kemauan dan sikap kita untuk menjaganya. Jangan pernah mengeluh dan menyalahkan alam -apalagi Tuhan- apabila ternyata bencana alam menimpa kehidupan kita yang sebelumnya sangat nyaman dan berkecukupan.

Mulailah dari hal yang kecil di lingkungan yang terkecil. Jangan sampai dunia kita yang nyaman ini berubah layaknya mesin pemanas air, yang sedikit demi sedikit mampu merubah temperatur normal air menuju titik didihnya.

20 FAQ about Global Warming

Question 1: What’s the big question here?
Answer 1: It is now widely assumed that mankind is dangerously warming his planet, and we want to know what if anything we can do about it. So we post material under “Underlying science” but also devote a lot of attention to “Policy”.

Question 2: Is Global Warming really happening?
Answer 2: Almost everyone accepts that the globally averaged world temperature has risen in the past century. But almost everything which flows from that “fact” is disputed. World Climate Report is a very good site trawling information which challenges the consensus. Real Climate is a very good website defending it.

Question 3: If something is happening, shouldn’t we act to head it off?
Answer 3: It seems obvious that mankind ought to be careful with future emissions of Greenhouse gases which may “cause” warming. But unless there is a “linear” (a proportionate) connection between our emissions and warming, it may turn out that any plausibe reductions in greenhouse gases might produce only a small reduction in warming. That is why one might read the call to arms by people like James Hansen and wonder whether anyone seriously believes the kind of action which he thinks is absolutely necessary is anywhere near happening. We posted an interesting piece which touched on this problem. (It is also the main point of a 2007 piece in the Evening Standard by the editor of these sites and of a 2004 piece for the Financial Times online edition.)

Question 4: So livingissues doesn’t care about this issue?
Answer 4: livingissues is as worried by climate change as the next website. But we’re not here to campaign for action or wind our audience up. We exist to help people understand issues and make up their own mind what they want to do. If that makes us sound sceptical, contrarian or even cynical, so be it.

Question 5: Do we know what to do to reduce the problem?
Answer 5: This is perhaps the most curious bit. The big change in the debate recently has been a view that the public as individuals need to change their behaviour. Previously, it was discussed mostly as though this was a problem for industry. This is a good shift of emphasis but reminds us of how difficult the politics will now be.

Question 6: Is there an argument for doing nothing?
Answer 6: Well yes. Quite a lot of “sceptics” think that it will be cheaper and cleverer to respond to whatever climate change turns out to be. Trying to avoiding it might be more trouble than it’s worth. “Mitigation” is the posh word for action aimed at stopping climate change happening. “Adaptation” is the posh word for handling it when it comes. Here’s the most interesting work on the issues, from a House of Lords report. Bjorn Lomborg is the most famous voice arguing for “adaptation”. (His name often crops up: don’t forget to do a search of his name, see the top of this page.)

Question 7: But what should governments do?
Answer 7: Governments are trying to work out what the right instruments are (they have to choose, for instance, between taxing fossil fuels more, or setting limits on greenhouse gas emissions and letting firms trade them in a system generally called “cap and trade”). But in the end, what governments do will probably cost voters more, and politicians are trying to work out how that will play at the ballot box.

Question 8: Do we know what we should do?
Answer 8: We are spoiled for choice, but none are easy. Do we want nuclear power? Will we pay to convert to a solar-driven economy? Will we give up flying? Driving? Should we be taxed and fined until we do the right thing? Would that be fair on the poor? How much better will the climate actually be for each bit of self-denial?

Question 9: Is GW a big phenomenon?
Answer 9: The world’s temperature has often shifted by much bigger amounts than we have experienced in the past century, but not in the last millennium. The swiftness of this change is regarded by some as very sudden (and as pretty normal by some others). In any case, we may be watching the beginning of a long-running or pronounced change (or we may not). The past is not necessarily a good guide to the future. Here is a popular account of one very respected and alarming (alarmist?) view. And here is the original scientific paper which sparked it.

Question 10: Is GW a bad thing?
Answer 10: Barring catastrophe, there would be winners as well as losers from most expected levels of global warming. It is generally assumed that adjusting to any big change is expensive and may be much harder in poor, crowded countries.

Question 11: Is GW caused by mankind?
Answer 11: It is pretty easy to argue that we have contributed a generally warming tendency to the plant’s climate, but the processes by which this general tendency is converted into actual weather is much harder to predict.

Question 12: Can man doing anything about GW?
Answer 12: Almost certainly not quickly, and maybe not much at all. Some of the gases which are warming the planet have very long lifetimes, and some of the practices which lead to them are vital to human life. All in all, it is hard to believe that we will quickly (or hugely) reduce the amount of the pollutants we will produce. And yet the task may not be as daunting as is sometimes supposed.

Question 13: Are oil companies to blame for global warming?
Answer 13: They certainly profit from selling us some the fuel which powers our world. But we, the public, are the real customers and “polluters”. Arguably, switching from coal to oil would help slow global warming. And so would switching from coal (and oil) to gas, which oil companies also produce. So addressing global warming may benefit many oil companies.

Question 14:  Shouldn’t oil companies be made to invest in renewable energy?
Answer 14: Their shareholders and employees want them to have a secure future, and that may mean investing in, say, solar power. But it isn’t clear why an existing oil company will be any better at this entrepreneurial gamble than, say, a utility company – or a chain of supermarkets, or firms which don’t yet exist. Besides, oil companies have got good at producing oil, and we’re going to need that for a long time yet.

Question 15: Is Kyoto a good treaty?
Answer 15: There are many enthusiasts for the Kyoto protocol’s demands that rich countries reduce their emissions of “greenhouse” gases by around 5 percent over the next few years. There is some scepticism as to whether Kyoto is all it’s cracked up to be. The US administration dislikes the treaty because, it says, meeting these targets happens to be harder for its economy than it has been for, say, the Europeans. It also says that the treaty doesn’t take enough account of the role poor countries already pay in causing global warming, and will increasingly play.

Question 16: Can we trust the scientists?
Answer 16: Many climate scientists have been a part of a UN-inspired process, the IPCC, and that has produced what looks like a consensus that global warming is real, big, bad, mankind’s fault and merits concerted action. But the “consensus” is not as strong as you might suppose. Firstly, the scientists agree that various scenarios are possible, and the difference between the scenarios is so great that this agreement amounts to rather little in policy-making terms. Secondly, the scientists agree that there are big uncertainties about many aspects of the science. In short, as usual, there is plenty of opportunity for an optimist to think global warming relatively insignificant, and plenty of opportunity, too, for pessimists to believe this is a deeply severe situation. There is also a good deal of argument about whether the IPCC process is as open-minded as it ought to be. In particular, there is a widespread belief that the summaries of the IPCC process don’t capture the uncertainties of the bulk of the work.

Question 17: What about the GW “sceptics”?
Answer 17: There has been a lot of mud-throwing from the “consensus” camp at those who dispute that GW is quite what they say. Some of the sceptics are accused of taking industry money, of not taking the idea of the “precautionary principle” seriously, of not being proper climate scientists. What is surprising is that many sceptics accept much of the “consensus” view about global warming. Some of these stress, however, that the effects may be at the low end of the “consensus” predictions, or that it is cheaper to adjust to global warming than to try to stop it.

Question 18: Should the rich world accept all the blame for GW?
Answer 18: Historically, the story so far is one of rich world emissions of Greenhouse gases. But the “Third World” – especially India and China are catching up. Whatever action the West may take may well be in large part undone by “Third World” energy growth. But maybe we should at least avoid piling “new world” emissions on top of “old world” ones?

Question 19: Is global warming like other environmental issues?
Answer 19: Yes, if you think it is something mankind has imposed on his planet, and that economic growth has caused it. But there is a big difference between this and most other issues. In most environmental issues (chemicals production, incineration of waste, perhaps even genetically modified organisms) the majority of specialist scientists tend to be more relaxed than the general public or the environmental groups. In global warming, the specialists and the environmentalists tend to be on the same side, and the public has yet to be persuaded. What is more, on most other issues, industry is perceived (probably wrongly) to be the problem: with global warming, it’s citizens who more obviously do the actual polluting (cars, planes, homes, products…).

Question 20: Will this generation Save the Planet?
Answer 20: No chance. We may make some tentative steps in the right direction. Provided it’s cheap and convenient.

Benarkah Iblis itu ada?

Bagi umat muslim, bulan Ramadhan atau bulan Puasa adalah bulan yang sangat dinanti-nanti kehadirannya. Karena di bulan inilah Allah SWT melipatgandakan semua pahala untuk ibadah dan tindakan-tindakan terpuji, dan di bulan ini juga iblis sang penggoda untuk sementara dicabut wewenangnya. Di bulan ini, umat muslim mendapatkan ujian untuk menahan hawa nafsunya seperti makan dan minum di siang hari serta tindakan-tindakan lainnya yang dianggap dapat mengurangi pahala, atau bahkan membatalkannya.

Tidak dapat disangkal lagi bahwa bulan ini adalah ajang pembuktian oleh Tuhan kepada umatnya tentang apa yang sebenarnya selama ini menjadi masalah semua umat manusia (tidak terkecuali yang non muslim). Bahwa musuh utama dari manusia selama mereka hidup di dunia ini bukanlah setan atau iblis dalam sebuah bentuk yang riil. Keduanya (mungkin) hanyalah representasi dari nafsu yang ada dalam diri manusia. Bahwa ternyata nafsu dari diri manusialah yang membuat mereka menyimpang dari jalan-NYA, bukan godaan dari Iblis atau setan seperti yang selama ini digembargemborkan.

Mari kita ambil contoh ketika Adam & Hawa diturunkan ke dunia dari kediaman mereka di Surga. Disitu memang disebutkan bahwa mereka (khususnya Hawa) terhasut rayuan setan itu mengambil buah Khuldi – buah yang dilarang untuk dimakan – dan kemudian memakannya. Karena kegagalan mereka untuk menahan diri dan istiqamah itulah akhirnya Tuhan memutuskan untuk mendegradasi mereka ke dunia.

Tapi, pernahkah disebutkan secara eksplisit seperti apakah bentuk setan atau iblis tersebut? Apakah mereka benar mirip dengan rekaan manusia seperti sekarang – bertanduk, bermuka menyeramkan, kejam, bergigi tajam, dll -.

Tidak pernah ada firman atau hadis yang mencoba untuk mendeskripsikan seperti apakah bentuk aktual dari Iblis atau setan. Sebagai manusia yang berlogika, tidak terpancingkah hasrat keingintahuan kita mengenai hal ini? Bahwa mungkin saja (dan sangat mungkin) Iblis atau setan tersebut hanyalah sebuah kata pengganti untuk NAFSU yang berada didalam diri manusia sendiri. Bahwa apabila manusia ingin menjadi seorang yang sukses, mereka harus terlebih dahulu mengendalikan diri mereka sendiri (nafsu) yang merupakan musuh utama diatas semuanya.

Apakah benar essensi dari bulan Ramadhan tersebut hanyalah pembuktian mengenai hal ini? Wallahualam bissawab…

Poverty Around The World

Membaca sebuah artikel di sebuah surat kabar nasional terkemuka di Indonesia mengenai situasi orang yang kekurangan pangan di dunia sampai tahun 2007 membuat hati saya terenyuh. Betapa tidak, sejak dicanangkannya tekad oleh para pemimpin di dunia pada World Food Summit 11 tahun yang lalu di Roma, ternyata jumlah orang yang kekurangan pangan di dunia hanya berkurang sebanyak 3 juta saja.

poverty.jpgMemang terjadi pengurangan, namun bandingkan dengan perkiraan angka yang dikeluarkan oleh PBB yaitu sebanyak 854 juta orang menderita kekurangan pangan di seluruh dunia, khususnya di daerah afrika sub-sahara yang terparah. Dari 11 tahun, ternyata tidak sampai 1% dari penduduk dunia yang mengalami kelaparan berubah nasibnya. Sebuah fakta yang sungguh menyedihkan.

Disisi lain, salah satu pendiri perusahaan software terkemuka di dunia, Bill Gates, dengan suksesnya berhasil mempertahankan posisinya sebagai pria terkaya di Amerika Serikat selama 14 tahun berturut-turut dengan kekayaan mencapai 59 milyar dollar Amerika Serikat. Sebuah angka yang sangat fantastis dan tentunya sebuah prestasi yang membanggakan..untuk Bill Gates sendiri tentunya.

Bukan bermaksud untuk menyudutkan posisi Bill Gates sebagai salah satu orang terkaya di dunia, tetapi cuman ingin mengambil sebuah perbandingan bahwa betapa jomplangnya perbandingan antara si kaya dan si miskin. Bahwa jurang antara keduanya sungguh terpaut sangatlah jauh. Dan yang lebih dramatis lagi, bahwa perbandingan antara Bill Gates dengan penduduk kelaparan bisa disejajarkan dengan perbandingan antara negara maju dengan negara berkembang.

Fakta membuktikan bahwa lebih dari 50% penduduk dunia yang menderita kelaparan berasal dari negara-negara berkembang dan under developing countries. Bahkan situasi disana dan negara-negara di kawasan timur tengah semakin memburuk melihat kondisi politik dan keamanan negara mereka yang sangat labil. Rakyat Irak, Palestina, dan Libanon dapat dipastikan sebagai new comer di sektor ini mengingat perang yang baru saja dan sedang terjadi di negara tersebut.Bahkan menurut laporan PBB, jumlah orang yang kelaparan justru meningkat dengan drastis sebanyak 4 juta orang per tahunnya.

Namun, untungnya masih ada berita yang cukup menggembirakan dimana jumlah orang yang kelaparan di bagian dunia lain seperti Asia Pasifik, Karibia, dan Amerika Latin mengalami penurunan. Ini membuktikan bahwa program pemberantasan kemiskinan dan kelaparan di kawasan tersebut cukup berjalan dengan baik.

Melihat fakta-fakta diatas maka ada beberapa hal yang harus kita lakukan untuk mengurangi jumlah kelaparan di seluruh dunia. Yang pertama adalah tentunya dibutuhkan kontribusi besar dari negara-negara maju untuk memberikan bantuan terhadap negara-negara yang mayoritas rakyatnya mengalami kekurangan pangan. Penggalangan bantuan dana menjadi salah satu prioritas utama untuk mengatasi kekurangan pangan ini.

Yang kedua adalah pemfokusan pembangunan kepada sektor pertanian. Perbaikan sistem dan teknologi pertanian menjadi hal yang sangat penting mengingat mayoritas dari negara yang mengalami kekurangan pangan justru negara agraris.

Tidak usah jauh-jauh mengambil contoh, lihat saja Indonesia yang notabene adalah negara yang memiliki tanah yang sangat subur dan katanya sudah swasembada pangan pun ternyata masih banyak rakyatnya mengalami kekurangan pangan. Contoh terakhir adalah ketika saya menyaksikan tayangan pembagian beras oleh Gubernur Palembang. Dimana terjadi bentrokan fisik antara petugas keamanan dengan rakyat yang datang untuk mengambil jatah beras.

poverty-1.jpgTidak mudah memang untuk memerangi kelaparan dan kemiskinan di seluruh dunia. Dibutuhkan adanya kesungguhan dan komitmen penuh dari semua pihak yang terkait, baik itu pemerintah maupun NGO untuk berperan aktif dalam mengurangi tingkat kekurangan pangan diseluruh dunia.

Rating TV: objektivitas atau jebakan batman

Istilah tentang rating atau penilaian peringkat sebuah program TV atau radio dll berdasarkan jumlah populasi yang menonton atau menikmati acara tersebut (share) mulai gue kenal dengan baik semenjak gue masuk ke dunia broadcast -radio-

Waktu itu, walaupun sudah mulai sedikit mengkritisi proses penilaian rating, gue masih ngga terlalu vokal karena menurut gue rating yang didapat radio gue masih wajar melihat usaha yang kita lakukan untuk memperbaiki dan mengembangkan mutu siaran dan kualitas dari alat yang kita miliki masih tidak banyak dan terbatas.

Keterbatasan dana dan ketidakberanian manajemen radio gue untuk menyetujui aplikasi program yang diajukan oleh bawahannya waktu itulah yang membuat akhirnya kita pasrah dengan rating radio kita, yang segitu-gitu aja.

Hasilnya, orang-orang yang idealis dan ambisius akhirnya memutuskan untuk hengkang dan mencari tempat baru yang dianggap lebih menjanjikan dan penuh dengan ambisi (termasuk gue tentunya). Dan akhirnya, hinggaplah gue di sebuah stasiun TV swasta yang menurut rating adalah TV no 1 di Indonesia waktu itu.

Dari sinilah gue lebih banyak belajar mengenai penghitungan rating yang dilakukan oleh sebuah biro yang menyediakan layanan tersebut. Sekian lama gue analisa, justru semakin gue ngerasa ngga sreg dengan sistem penghitungan rating yang ada di Indonesia ini.

Mungkin ada sisi kebosanan gue akan tontonan yang disajikan oleh hampir mayoritas TV di Indonesia yang membuat gue agak apatis tentang perkembangan dunia pertelevisian di Indonesia. Tapi yang membuat gue heran adalah, bagaimana sistem penghitungan rating tersebut dilakukan dan bagaimana hal tersebut bisa dijadikan standar yang sepertinya sangat baku oleh TV dan agency periklanan di negara ini.

Tidak pernah ada keterbukaan dalam proses penilaian rating sebuah acara atau sebuah TV secara keseluruhan. Memang, yang namanya penilaian tidak pernah terbuka, tapi sebagai seorang penikmat TV dahulu, setidaknya gue pernah mendengar atau bahkan merasakan cara penilaian biro tersebut untuk mendapatkan jumlah penonton yang menikmati sebuah program TV di jam tertentu.

Ngga pernah tuh TV rumah gue atau tetangga gue dipasang alat people meter oleh biro tersebut yang katanya merupakan alat yang mereka jadikan standar perhitungan. Sebuah alat yang mampu mengirimkan perpindahan setiap channel yang dilakukan oleh sang penonton ke receiver mereka. Bahkan remote TV mereka pun mempunyai representasi tersendiri. Nomor 1 untuk ayah, nomor 2 untuk ibu, nomor 3 untuk anak, dst yang kemudian mampu menentukan kategori SES sebuah tontonan TV. Ini juga yang kemudian dijadikan standar oleh para pemasang iklan. Canggih banget ngga tuh?!

Yang kedua adalah, semakin kesini justru sepertinya perkembangan program TV di Indonesia justru semakin stagnan dan bisa ditebak arahnya. Sepertinya rating yang dikeluarkan tersebut menggambarkan bahwa selera penonton Indonesia tidak pernah jauh berubah. Yang berarti otak orang Indonesia tidak mengalami perubahan pula. Sepertinya semua orang Indonesia suka menonton sinetron apapun bentuknya – ini merupakan tipe program TV yang konon sangat tinggi rating sharenya-.

Jadilah hampir semua TV berlomba-lomba menayangkan sinetron dengan berbagai tipe yang menguasai prime hour dimana pemirsa banyak menghabiskan waktu mereka untuk menonton TV (katanya). Dan sadarkah kita kalau prime hour itu cukup terbilang panjang (mulai dari jam 18.00 – sekitar 24.00). Hasilnya, sepanjang jam itulah kita dapati tontonan sinetron dengan berbagai tipe cerita dan judul menghiasi layar TV kita.

Hasilnya, monopoli dari biro rating tersebut bukannya membawa perubahan yang positif untuk dunia pertelevisian di Indonesia. Hasil rating yang mereka keluarkan dalam mingguan bahkan harian tersebut justru mengarahkan dunia pertelevisian kita ke arah siapa yang punya modal dia yang menang (kapitalisme). Bukannya membuat dunia pertelevisian sebagai pionir perkembangan kreatifitas, imajinasi, dan perubahan sosial masyarakat ke arah yang lebih baik.

Setiap TV berlomba-lomba menciptakan tontotan yang menurut rating adalah tontonan yang digemari oleh seluruh masyarakat. Atau apabila ada sebuah program sebuah TV yang sukses berdasarkan rating, rival mereka bukannya menciptakan terobosan dengan melahirkan sebuah tipe program yang baru, tapi malah melakukan modifikasi dari program yang sukses tersebut dan menayangkannya di TV mereka. Pathetic banget ngga sih?

Jadi, apa gunanya divisi kreatif di sebuah TV? mereka tak ubahnya sebuah divisi yang hanya mampu memodifikasi sebuah program saja dan melakukan rutinitas sehari-hari. Kasarnya memang seperti itu. Tapi ngga benar sepenuhnya. Banyak pula tim kreatif yang benar-benar kreatif dan menciptakan program yang sangat variatif. namun sayangnya bos mereka (sang pemilik modal) terlalu takut akan kehilangan duit mereka sehingga membuat otak mereka tidak berkembang dan membuat mental mereka ciut.

Padahal, mereka mempertanggungjawabkan nasib dari para pemirsa di negara ini. Bahkan mereka mempertanggungjawabkan kekreatifan dari para anak bangsa. Tidak sadarkan para direktur atau pemilik modal ini bahwa sangat mungkin sekali rating sebuah TV bisa dibeli? Siapa yang lebih kuat modalnya, mereka mampu memanipulasi segalanya?

Padahal, gue yakin banget, apabila kita mampu menciptakan sebuah tontonan yang berkualitas dan orisinil, tanpa mengandalkan biro rating tersebut pun iklan (duit) bisa dateng dengan sendirinya.

(sebenarnya masih pengen lebih banyak lagi ngebahasnya, tapi udah mau buka puasa. jadi udah dulu deh.. :) )

Everything start from a simple dream…

Dream is a word used to describe the subconscious experience of a sequence of images, sounds, ideas, emotions, or other sensations usually during sleep, especially REM sleep.

The events of dreams are often impossible, or unlikely to occur, in physical reality: they are also outside the control of the dreamer. The exception to this is known as lucid dreaming, in which dreamers realize that they are dreaming, and are sometimes capable of changing their dream environment and controlling various aspects of the dream. The dream environment is often much more realistic in a lucid dream, and the senses heightened.

Mengapa Latah?

Latah. Sebuah istilah dalam bahasa Indonesia yang lebih banyak unsur konotatifnya dibanding unsur denotatifnya. Coba deh cari, dijamin bakal dikit banget kita nemuin kata latah yang punya makna positif. Palingan kalo yg lumayanan, Latah dihubungkan dengan meniru sesuatu yang baik atau modern untuk perbaikan, pengembangan, pembangunan, dll. tapi tetep aja, ada kata meniru disitu. tapi masih dimaafkan karena buat kebaikan.

Tapi yang gue heran adalah, kenapa latah (bukan dalam artian yang serius) lebih banyak ditemukan di dunia entertainment? coba deh kita peratiin. banyak banget pekerja di dunia hiburan yang latah. entah itu artis, manajer, make up artis, hair stylist, orang produksi, bahkan sampe seorang driver yang akrab dengan dunia hiburan pun bisa ketularan latah.

Derajat keparahannya pun sangat variatif. mulai dari yang latah sopan (ex: menyebutkan kata2 yg sopan atau berbau religius), latah pengulangan kata/ekolalia (ex: mengulangi kata yang diucapin orang), latah ekopraksia (mengulangi gerakan orang lain), latah koprolalia (mengucapkan kata2 jorok/kotor – ini paling banyak dan paling gue sebel), dan sang jawaranya adalah latah automatic obedience (orang yang mengalami latah ini secara otomatis mengikuti perintah dari orang scr langsung – disuruh buka baju, langsung buka baju).

Ngga tau kenapa, maaf2 nih, gue jadinya sebel banget ama orang2 yang latah ini. Bisa jadi beberapa orang emang dari sononya sudah tertular “penyakit” yang satu ini. tapi yang paling nyebelin adalah orang yang awalnya ngga, jadi malah latah atau yang disebut sok latah. ngga tau apa motif orang yang sok latah ini. tapi yang gue liat adalah (sekali lagi maaf loh), orang yang sok latah dan kemudian akhirnya jadi latah beneran ini adalah orang yang pengen cepet diterima di sebuah pergaulan. karena banyak orang beranggapan orang latah itu lucu, bisa jadi hiburan, bisa jadi mainan di saat suntuk, dan bisa jadi bahan perhatian orang2.

Intinya adalah, orang yang sok latah itu akhirnya jadi cepet terkenal karena dia latah dan bisa dimainin (inget! bisa dimainin!). Setelah terkenal, mungkin ditambah fisik yang lumayan atau unik, ngga lama kemudian sebuah PH atau TV bisa menawarkan mereka sebuah peran disebuah acara komedi mereka.

Padahal taukah mereka kalo latah itu sangat erat hubungannya dengan sesuatu yang terkebelakang atau tidak menyenangkan? Katanya, budaya latah itu tumbuh dalam masyarakat yang terkebelakang dan menerapkan budaya otoriter. Sebuah teori bahkan menyebutkan kalo budaya latah tsb biasanya diderita oleh orang tua, orang yang berpendidikan rendah, dan ekonomi lemah.

Jadi, MENGAPA LATAH?

Happy Belated Independence day my lovely country!

62 yrs old. klo ukuran manusia, orang dengan umur segini biasanya udah punya anak cucu, sangat bijaksana, sudah menjelang akhir masa produktivitas, dan sudah lebih mendekatkan diri kepada sang pencipta. Intinya, manusia dengan umur segini udah tau asam garamnya hidup dan sudah lebih tau trik2 mengakali berbagai macam intrik dalam kehidupan di dunia.

Tapi, hal tsb tidak berlaku buat sebuah negara, khususnya Indonesia. di umur 62th, ternyata Indonesia masih bagaikan seorang remaja atau lebih tepatnya anak ABG yang masih mencari jati dirinya. Masih sangat belum matang dan masih mencari2 posisi dan keberadaannya di lingkungan nasional & internasional.

Layaknya seorang anak bontot, Indonesia masih sangat labil dan masih bergantung kepada kakak2nya (negara2 maju). Bahkan, lebih parahnya lagi, diumurnya seperti saat ini, Indonesia seperti masih bisa dipermainkan oleh adik2nya. Indonesia seperti negara yang tidak punya pendirian, dan kalopun sedang berada disatu posisi, posisi tsb masih goyah dan gampang terombang ambing.

Tidak hanya di lingkungan internasional yang lebih plural dan rumit, di lingkup dalam negeri saja Indonesia seperti masih mencari-cari pattern yang cocok untuk menjadi sebuah negara yang lebih baik dan besar (sebuah hal yang menurut gue sudah menjadi takdir Indonesia..seharusnya!). Indonesia seperti masih mencoba-coba mana yang cocok buat dirinya dan masyarakatnya.

Seringkali gue sedih melihat banyaknya ketidaktegasan terjadi di berbagai sektor di Indonesia. Keberpihakan kepada sebuah golongan pun acapkali terjadi, padahal golongan ini adalah golongan yang minoritas dan tidak terlalu membutuhkan kasih sayang lebih dari negara ini.

Sampai, seringkali gue ngerasa apatis akan keadaan negara ini. apakah akan terjadi perbaikan yang signifikan dan tercipta kesejahteraan yang maksimal bagi seluruh rakyatnya seperti yang termaktub dalam UUD 1945? ngga usah kesejahteraan merata deh, karena gue yakin kesejahteraan seseorang itu udah pasti beda-beda derajatnya dan tolak ukurnya. cukup maksimal aja deh buat masing-masing pribadi.

Keadilan? tidak akan pernah ada kata adil yang sama bagi semua orang. tapi setidaknya ada ketegasan dan sebuah kata adil mampu hadir secara proporsional di sebuah kejadian. Pendidikan? gratis? ngga usah muluk2 deh. yg penting terjangkau dan mengakar.

Banyak sektor yang masih penuh masalah yang sangat rumit dan perlu kita selesaikan bersama-sama. singkirkan sejenak kepentingan pribadi demi kepentingan yang lebih besar. Percayalah, suatu saat nanti kita jugalah yang akan menikmati kesuksesan dari hasil perjuangan bersama kita tsb. Saat ini, mungkin kebersamaan adalah sebuah hal yang sangat dibutuhkan untuk memperbaiki dan membangun negara ini. Jadikanlah momen ini sebagai sebuah momen yang baik untuk memulai sesuatu yang lebih baik.
Dan, sesulit apapun cobaan yang dihadapi ama Indonesia, tempat ini adalah rumahku yang sangat kucintai. Negara yang sudah menjadikanku dan memberi banyak hal sampai saat ini. I LOVE THIS COUNTRY SO MUCH!! HAPPY BELATED INDEPENDENCE DAY MY LOVELY COUNTRY! GOODLUCK AND WISH YOU ALL THE BEST!

from me..

- @ky

Wisata Kuliner @ Jakarta

great foods! 2 mingguan yang lalu gue nemuin sebuah tempat makan yg menurut gue asik banget! bergayakan resto belanda, resto di bilangan tebet ini memadukan kenyamanan tempat dengan variasi makanan dan minuman ala belanda yang beda banget dan punya cita rasa yang cihuy pula. ditambah lagi harganya juga ok punya. jadi lengkap deh semuanya.

2 jenis makanan dan 2 jenis minuman gue santap menjelangmidnite die hard 4 bareng temen 2 kul gue dulu. kita berenam dengan selera makan yang termasuk luar biasa, ternyata hanya menghabiskan 150rb rupiah! giman tuh? mantap kan? kurang dari 30rb per orang kalo dirata2. di warteg aja sekarang udah bisa ceban sekali makan untuk satu piring makanan plus minumnya (mungkin).

maap2 kalo ternyata gue yang baru tau tempat yang katanya udah punya banyak cabang di jkt ini. tapi buat yang belum tau, gue rekomendasiin lo buat makan di HEMA resto. buat kencan juga ok kok!