Rating TV: objektivitas atau jebakan batman

Istilah tentang rating atau penilaian peringkat sebuah program TV atau radio dll berdasarkan jumlah populasi yang menonton atau menikmati acara tersebut (share) mulai gue kenal dengan baik semenjak gue masuk ke dunia broadcast -radio-

Waktu itu, walaupun sudah mulai sedikit mengkritisi proses penilaian rating, gue masih ngga terlalu vokal karena menurut gue rating yang didapat radio gue masih wajar melihat usaha yang kita lakukan untuk memperbaiki dan mengembangkan mutu siaran dan kualitas dari alat yang kita miliki masih tidak banyak dan terbatas.

Keterbatasan dana dan ketidakberanian manajemen radio gue untuk menyetujui aplikasi program yang diajukan oleh bawahannya waktu itulah yang membuat akhirnya kita pasrah dengan rating radio kita, yang segitu-gitu aja.

Hasilnya, orang-orang yang idealis dan ambisius akhirnya memutuskan untuk hengkang dan mencari tempat baru yang dianggap lebih menjanjikan dan penuh dengan ambisi (termasuk gue tentunya). Dan akhirnya, hinggaplah gue di sebuah stasiun TV swasta yang menurut rating adalah TV no 1 di Indonesia waktu itu.

Dari sinilah gue lebih banyak belajar mengenai penghitungan rating yang dilakukan oleh sebuah biro yang menyediakan layanan tersebut. Sekian lama gue analisa, justru semakin gue ngerasa ngga sreg dengan sistem penghitungan rating yang ada di Indonesia ini.

Mungkin ada sisi kebosanan gue akan tontonan yang disajikan oleh hampir mayoritas TV di Indonesia yang membuat gue agak apatis tentang perkembangan dunia pertelevisian di Indonesia. Tapi yang membuat gue heran adalah, bagaimana sistem penghitungan rating tersebut dilakukan dan bagaimana hal tersebut bisa dijadikan standar yang sepertinya sangat baku oleh TV dan agency periklanan di negara ini.

Tidak pernah ada keterbukaan dalam proses penilaian rating sebuah acara atau sebuah TV secara keseluruhan. Memang, yang namanya penilaian tidak pernah terbuka, tapi sebagai seorang penikmat TV dahulu, setidaknya gue pernah mendengar atau bahkan merasakan cara penilaian biro tersebut untuk mendapatkan jumlah penonton yang menikmati sebuah program TV di jam tertentu.

Ngga pernah tuh TV rumah gue atau tetangga gue dipasang alat people meter oleh biro tersebut yang katanya merupakan alat yang mereka jadikan standar perhitungan. Sebuah alat yang mampu mengirimkan perpindahan setiap channel yang dilakukan oleh sang penonton ke receiver mereka. Bahkan remote TV mereka pun mempunyai representasi tersendiri. Nomor 1 untuk ayah, nomor 2 untuk ibu, nomor 3 untuk anak, dst yang kemudian mampu menentukan kategori SES sebuah tontonan TV. Ini juga yang kemudian dijadikan standar oleh para pemasang iklan. Canggih banget ngga tuh?!

Yang kedua adalah, semakin kesini justru sepertinya perkembangan program TV di Indonesia justru semakin stagnan dan bisa ditebak arahnya. Sepertinya rating yang dikeluarkan tersebut menggambarkan bahwa selera penonton Indonesia tidak pernah jauh berubah. Yang berarti otak orang Indonesia tidak mengalami perubahan pula. Sepertinya semua orang Indonesia suka menonton sinetron apapun bentuknya – ini merupakan tipe program TV yang konon sangat tinggi rating sharenya-.

Jadilah hampir semua TV berlomba-lomba menayangkan sinetron dengan berbagai tipe yang menguasai prime hour dimana pemirsa banyak menghabiskan waktu mereka untuk menonton TV (katanya). Dan sadarkah kita kalau prime hour itu cukup terbilang panjang (mulai dari jam 18.00 – sekitar 24.00). Hasilnya, sepanjang jam itulah kita dapati tontonan sinetron dengan berbagai tipe cerita dan judul menghiasi layar TV kita.

Hasilnya, monopoli dari biro rating tersebut bukannya membawa perubahan yang positif untuk dunia pertelevisian di Indonesia. Hasil rating yang mereka keluarkan dalam mingguan bahkan harian tersebut justru mengarahkan dunia pertelevisian kita ke arah siapa yang punya modal dia yang menang (kapitalisme). Bukannya membuat dunia pertelevisian sebagai pionir perkembangan kreatifitas, imajinasi, dan perubahan sosial masyarakat ke arah yang lebih baik.

Setiap TV berlomba-lomba menciptakan tontotan yang menurut rating adalah tontonan yang digemari oleh seluruh masyarakat. Atau apabila ada sebuah program sebuah TV yang sukses berdasarkan rating, rival mereka bukannya menciptakan terobosan dengan melahirkan sebuah tipe program yang baru, tapi malah melakukan modifikasi dari program yang sukses tersebut dan menayangkannya di TV mereka. Pathetic banget ngga sih?

Jadi, apa gunanya divisi kreatif di sebuah TV? mereka tak ubahnya sebuah divisi yang hanya mampu memodifikasi sebuah program saja dan melakukan rutinitas sehari-hari. Kasarnya memang seperti itu. Tapi ngga benar sepenuhnya. Banyak pula tim kreatif yang benar-benar kreatif dan menciptakan program yang sangat variatif. namun sayangnya bos mereka (sang pemilik modal) terlalu takut akan kehilangan duit mereka sehingga membuat otak mereka tidak berkembang dan membuat mental mereka ciut.

Padahal, mereka mempertanggungjawabkan nasib dari para pemirsa di negara ini. Bahkan mereka mempertanggungjawabkan kekreatifan dari para anak bangsa. Tidak sadarkan para direktur atau pemilik modal ini bahwa sangat mungkin sekali rating sebuah TV bisa dibeli? Siapa yang lebih kuat modalnya, mereka mampu memanipulasi segalanya?

Padahal, gue yakin banget, apabila kita mampu menciptakan sebuah tontonan yang berkualitas dan orisinil, tanpa mengandalkan biro rating tersebut pun iklan (duit) bisa dateng dengan sendirinya.

(sebenarnya masih pengen lebih banyak lagi ngebahasnya, tapi udah mau buka puasa. jadi udah dulu deh.. :) )

3 Responses

  1. Wah Yul! Seperti yg pernah kita bahas pada saat berbuka puasa di villa gw yg cozy dan homey di bojong koneng(ciehhh!).hehehe…

    Topik rating ini menjadi topik yg hangat dan patut untuk dibahas lebih lanjut. Memang bener belum ada pembahasan secara komprehensif mengenai metode rating ini. Konon menurut buku yg saya baca dari karya Dan Brown berjudul Digital Fortress, hanya mereka yg memiliki power dan informasi yg tahu hal ini. jadi masih rahasia (eta oge ceuk si Brown sih).

    Memang di Indonesia status-quo bisnis adalah segalanya. Sayangnya rating itu adalah satu2nya parameter mereka untuk mempertahankan status-quo tersebut. Jadi alih2 membuat tayangan yg edukatif dan berkualitas bagi bangsa, para produser pun berlomba2 untuk membuat film yg temanya itu2 saja di semua stasiun tv. Latah i suppose.

    Jadi kadang2 gw mikir pointless aja kita punya ampe 9 stasiun tv swasta di indonesia kalo bobot acaranya sama semua. perbedaannya hanya ada pada unsur presentasi.

    Mungkin orang2 seperti kita jarang nonton sinetron tapi justru kaum kelas menengah ke bawah yg justru merupakan populasi terbanyak di indonesia mengagumi sinetron2 ini. efek psikologisnya adalah mindset mereka pun dikondisikan sesuai dengan jalan cerita di sinetron2 itu.

    Yah mungkin semuanya itu adalah konsekuensi logis dari kebebasan mengemukakan pendapat yg kebablasan (Rosihan Anwar).patut disayangkan juga memang demokrasi seperti ini sudah tidak sehat.

    wuih!kepanjangan yah!nanti kita bahas lagi yah.

    saran gw sih coba stasiun TV ngadain riset n seminar tentang ini. Media massa cetak dah banyak yg ngebahas tentang ini soalnya.sedikit inovatiflah.justru syarat utama perkembangan bisnis adalah think out of the box n get out from your comfort zone kata Rhenald Kasali juga.

    jadi menurut saya, rating tv itu jebakan batman!hehehe…

    all best!

  2. lantas…
    kita bisa apa dengan keadaan yang seperti ini.???
    apakah kita hanya mengomentari saja tanpa melakukan tindakan apa2?????

  3. Sejauh ini sih bisanya masih di kisaran komentar don..hehehe Krn urusannya sangat complicated, jd (mungkin) ketakutan pr pemilik modal mengalahkan keinginan mereka untuk menciptkan sebuah tontonan yg lebih bermutu. Contohnya nih, program TV After School yang ditayangkan disebuah TV swasta didrop oleh manajemennya. padahal klo lo pernah nonton, program ini sangat mendidik (selain menghibur pastinya). Gue sendiri ngga ngerti kenapa bisa gitu. Klo menurut gue, seharusnya ada sedikit pengorbanan dr manajemen TV tsb utk tetep mempertahankan program itu. dgn tujuan untuk memberikan pendidikan kepada anak2 indo. gimana?

Leave a Reply